"Man Shabara Zhafira"

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. [Imam Al-Ghazali]

Selasa, 04 September 2012

Perkembangan Moral pada Anak Usia SD


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Perkembangan yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan yang merekajalani baik bersifat fisik maupun non fisik. Perkembanmgan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.
Kesepakatan para ahli menyatakan bahwa :yang dimaksud dengan perkembangan itu adalah suatu proses perubahan pada seseorang kearah yang lebih maju dan lebih dewasa, namun mereka berbeda-beda pendapat tentang bagaimana proses perubahan itu terjadi dalam bentuknya yang hakiki. (Ani Cahyadi,Mubin, 2006 : 21-22).
Beberapa teori perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari masa bayi kemasa dewasa melalui beberapa langkah jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangnya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi inifaktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersbut merupakanproses sosialisai yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang yang secara aktifmelakukan proses sosialisasi
B.     Rumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah di dalam makalah ini adalah
Apa makna perkembangan sosial anak ?
 Bagaimana bentuk – bentuk tingkah laku sosial pada anak ?
 Faktor  – faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan sosial anak ?
 Bagaimana pengaruh perkembangan sosial anak terhadap tingkah laku anak ?




C.    Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui makna perkembangan sosial anak
mengetahui bentuk-bentuk perkembangan sosial anak, mengetahui faktor-faktor yangmempengaruhi perkembangan sosial anak dan pengaruh perkembangan sosial anak terhadaptingkah laku anak.




















BAB II
PEMBAHASAN

PERKEMBANGAN MORAL PADA ANAK USIA SD
            Perilaku moral berarti perilaku yang menyesuaikan dengan kode moral dari kelompok sosialnya. Moral berasal dari bahsa latin: mores berarti tatakrama atau kebiasaan. Perilaku moral dikendalikan oleh konsep moral, yakni aturan-aturan dalam bertingkah laku, dimana anggota masyarakat berperilaku sesuai dengan pola perilaku yang diharapkan oleh masyarakatnya, sedangkan perilaku immoral adalah perilaku yang gagal menyesuaikan pada harapan sosial. Perilaku tersebut tidak dapat diterima oleh norma-norma sosial. Perilaku unmoral adalah perilaku yang tidak menghiraukan harapan dari kelompok sosialnya. Perilaku ini cenderung terlihat pada kanak-kanak. Ketika masih kanak-kanak, anak tidak diharapkan untuk mengenal seluruh tata krama dari suatu kelompok. Begitu anak memasuki usia remajadan menjadi anggota suatu kelompok, anak dituntut untuk bertingkah laku sesuai dengan kebiasaan kelompoknya. Tingkah laku yang sesuai dengan aturan tidak hanya sesuai dengan dasar-dasar yang ditetapkan secara sosial tetapi juga perlu diikuti secara suka rela. Hal ini terjadi pada otoritas eksternal maupun internal. Dalam perkembangan moral kelak anak-anak harus belajar mana yang benar dan mana yang salah. Kemudian, begitu anak bertambah besar, ia harus tahu alasan mengapa sesuatu dianggap benar sementara yang lain tidak. Dengan demikian, anak perlu dilibatkan dalam aktivitas kelompok, tetapi yang terpenting tetap perlu mengembangkan harapan melakukan mana yang baik dan mana yang buruk.
            Menurut Piaget, antara usia lima dan dua belas tahun konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Pengertian yang kaku dan keras tentang benar dan salah, yang dipelajari dari orang tua, menjadi berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan-keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral. Jadi, menurut piaget relativitasme moral menggantikan moral yang kaku. Misalnya bagi anak lima tahun, berbohong selalu buruk, sedangkan anak yang lebih sadar bahwa dalam bebarapa situasi, berbohong dibenarkan, dan oleh karena itu, berbohong tidak selalu buruk.
            Kohlberg memperluas teori Piaget dan menamakan tingkat kedua dari perkembangan moral moral akhir masa kanak-kanak sebagai tingkat moralitas konvensional atau moralitas dari aturan-aturan dan penyesuaian konvensional. Dalam tahap pertama dari tingkat ini oleh Kohlberg disebutkan moralitas anak baik, anak mengikuti peraturan untuk mengambil hati orang laindan untuk mempertahankan hubungan-hubunganyang baik. Dalam tahap kedua, kohlberg mengatakan bahwa kalau kelompok sosial menerima peraturan-peraturan yang sesuai bagi semua anggota kelompok, ia harus menyesuaikan diri dengan peraturan untuk menghindari penolakan kelompok dan celaan.
Moral merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja. Sebagian orang berpendapat bahwa moral bisa mengendalikan tingkah laku anak yang beranjak dewasa ini sehingga ia tidak melakukan hal hal yang merugikan atau bertentangan dengan kehendak atau pandangan masyarakat. Di sisi lain tiadanya moral seringkali dituding sebagai faktor penyebab meningkatnya kenakalan remaja.
Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri punya peran penting dalam pembentukan moral. W.G. Summer (1907), salah seorang sosiolog, berpendapat bahwa tingkah laku manusia yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi sanksi tersendiri buat pelanggar
Cara Mempelajari Moral
Pada saat lahir, tidak ada anak yang memiliki hati nurani atau skala nilai. Akibatnya, tiap bayi yang baru lahir dapat dianggap amoral. Tidak seorang anakpun dapat diharapkan mengembangkan kode moral sendiri. Maka, tiap anak harus diajarkan standart kelompok tentang yang bernar dan yang salah.
 Hurlock (1978) mengemukakan dalam mempelajari sikap moral, terdapat empat pokok utama:
1)       Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum, kebiasaan, dan peraturan.
Elemen pertama yang penting dalam belajar menjadi individu yang bermoral adalah belajar apa yang diharpkan kelompok. Dalam setiap kelompok sosial beberapa perilaku yang dianggap benar atau salah karena berkaitan dengan kesejahteraan anggota kelompoknya.
     Ketika masa kanak-kanak, anak tidat terlalu dituntut untuk tunduk pada hukum dan kebiasaan sebagaimana yang diharapkan pada anak yang lebih besar. Setelah memasuki usia sekolah, anak mulai diajarkan sedikit demi sedikit hukum yang berlaku di lingkungannya. Misalnya menunjukkan sopan santun pada orang yang lebih tua.disekolah mereka belajar dan patuh pada aturan sekolah begitu pula bermain dengan teman sebaya.
     Secara perlahan, anak belajar aturan yang dibentuk oleh berbagai kelompok yang berbeda, seperti dirumah, sekolah, dan lingkungan rumah/tetangga. Hal ini membentuk dasar dari pengetahuan mengenai apa yang diharapkan oleh kelompok yang berbeda. Mereka juga belajar bahwa mereka diharapkan untuk taat pada aturan dan jika melanggar akan mendapat hukuman atau kurangnya penerimaan sosial. Dengan demikian aturan merupakan pedoman bagi perilaku anak dan sebagai sumber dari motivasi untuk taat pada harapan sosial sebagaimana hukum dan adat kebiasaan bagi para remaja dan orang dewasa.
2)       Menegmbangkan Hati Nuran
Kata hati merupakan kontrol internal (dalam diri) terhadap tingkah laku seseorang. Tidak ada anak yang lahir dengan kata hati tertentu dan setiap anak tidak hanya belajar mengenai apa yang benar dan apa yang salah, tetapi anak harus menggunakan kata hatinya sebagai kontrol terhadap tingkah lakunya. Hal ini merupakan salah satu tugas perkembangan yang penting di masa anak usia sekolah. Kata hati merupakan sesuatu yang kompleks bagi anak-anak. Oleh karena itu, pada awalnya tingkah laku mereka lebih banyak dikontrol oleh lingkungan. Terjadi pergantian yang  perlahan-lahan dari lingkungan ke kontrol yang sudah terinternalisasi, pada saat itulah transisi sudah lebih lengkap.

3)       Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok.
Setelah anak mengembangkan kata hati maka kata hati akan diperrgunakan sebagai pedoman bagi tingkah laku mereka. Jika tingkah laku mereka tidak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh kata hatinya maka mereka akan merasa bersalah, malu atau keduanya.
Dalam perilaku bermoral, rasa bersalah perlu ada. Seseorang harus taat pada kebiasaan atau tata krama dari kelompok melalui standar pengarahan dalam diri. Ausabel(dalam Hurlock), 1978) mengemukakan bahwa rasa bersalah merupakan mekanisme psikologis yang penting, dimana perilaku seseorang menjadi sesuai dengan kebudayaannya. Rasa bersalah juga merupakan alat yang penting bagi kelangsungan hidup budaya karena memungkinkan individu untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral masyarakat. Jika anak tidak merasa bersalah, anak akan menjadi tidak termotivasi untuk belajar apa yang diharapkan kelompok pada dirinya.
4)       Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok.
Interaksi sosial memegang peran penting dalam perkembangan moral anak karena dapat memberikan dasar-dasar dari tingkah laku yang diterima masyarakat,memberikan motivasi melalui apa yang diterima
Pola Perkembangan Moral
Menurut Peaget, perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama disebut tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”. Tahap kedua disebut moralitas otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau hubungan timbal balik)
Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai tindakan sebagai benar atau salah atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motifasi dibelakangnya. Moral anak otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir atau menilai, dan cendrung menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. Yang paling penting menurut Piaget bahwa anak menilai suatu perbuatan benar atu salah berdasarkan hukuman bukan pada nilai moralnya.
Di tahap kedua perkembangan kognitif anak telah terbentuk sehingga dia dapat mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk memecahkan masalah tertentu. Anak mulai dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor untuk memecahkan masalah

Peranan Disiplin dalam Perkembangan Moral
            Disiplin berperan penting dalam perkembangan kode moral. Meskipun anak memerlukan diisiplin, disiplin merupakan masalah yang serius bagi anak yang lebih besar. Penggunaan secara kontinu teknik-teknik disiplin yang ternyata efektif ketika anak masih kecil, cenderung menyebabkan kebencian pada yang lebih besar. Kalau disiplin dibutuhkan dalam perkembangan, haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Jika anak tidak berinteraksi dengan lingkungannya, anak tidak akan tahu tingkah laku apa yang akan diterima.
            Interaksi sosial yang pertama dialami anak adalah melalui kehidupan dilingkungannya.
            Melalui interaksi sosial, anak tidak hanya belajar mengenai kode-kode moral, tetapi mereka juga berkesempatan untuk belajar mengevaluasi tingkah laku mereka.
PENGERTIAN DISIPLIN
            Kita semua mungkin anda pun sebagai guru menyadari pentingnya disiplin dalam perkembangan dan penanaman moral anak.Konsep umum dari disipin disamakan dengan hukuman.Konsep ini menyatakan bahwa disiplin digunakan jika anak melanggar aturan-aturan yang ditetapkan oleh orang tua,guru,ataupun orang dewasa lainnya.Disiplin merupakan cara masyarakat mengajarkan anak berperilaku moral yang diterima oleh masyarakatnya.Tujuan dari disiplin adalah membentuk perilaku yang sesuai dengan kelompok  sosialnya.Walaupun demikian,ada orang tua yang takut bahwa dengan menerapkan disiplin akan menimbulkan masalah dalam hubungan dengan anak-anaknya.Oleh karena itu .ada konsep yang bertentangan tentang disiplin itu sendiri.Konsep yang memandang disiplin sebagai konsep negative,berarti sama dengan hukuman.Sedangkan konsep positif sama dengan adanya pendidikan ,bimbingan dalam menerapkan disiplin diri dan kontrol diri.

PENTINGNYA DISIPLIN BAGI ANAK
            Disiplin adalah penting bagi perkembangan anak karena berisi hal-hal yang diperlukan anak.Disiplin akan menambah kebahagiaan ,penyesuaian sosial dan pribadi mereka.Beberapa kebutuhan anak yang dapat dipenuhi melalui disiplin adalah sebagai berikut :
1)      Disiplin membuat anak-anak mempunyai persaan aman tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
2)      Anak belajar mengapa pola perilaku tertentu diterima dan mengapa pola perilaku lain tidak diterima.
3)      Melalui disiplin anak-anak dibantu untuk hidup sesuai dengan norma-norma sosial.Anak-anak belajar berperilaku dengan cara tertentu yang dapat memperoleh pujian,dimana anak-anak mengartikan sebagai dicintai-diterima.Hal ini mendorong anak untuk  mengulang perilaku yang baik.
4)      Anak-anak pun akan mengembangkan kata hati untuk membuat keputusan dan pengendalian dari perilakunya.
Disamping itu ,hal-hal yang penting dari disiplin untuk anak usia SD adalah (Hurlock,1980) berikut ini :
1.Alat untuk Membentuk Moral
            Pengajaran baik dan buruk  perlu ditekankan pada alasan mengapa pola tingkah laku diterima sementara yang lain tidak,dan penjelasan langsung perlu untuk membantu anak memilkii konsep yang lebih luas.

2.Penghargaan
            Penghargaan memiliki nilai pendidikan yang kuat bagi anak jika anak bertingkah laku benar dan dapat memotivasi anak untuk mengulang kembali tingkah laku yang diharapkan.Dengan demikian ,penghargaan merupakan hal yang efektif maka pemberian penghargaan juga harus tepat disesuaikan dengan usia anak dan tingkat perkembangannya.
3.Hukuman
            Sebagaimana penghargaan ,hukuman perlu dikembangkan secara tepat .Hukuman dapat memotivasi anak agar taat pada harapan sosialdikemudian hari.
4.Konsistensi
            Disiplin yang baik adalah disiplin yang diberikan secara konsisten .Apa yang benar saat ini juga benar disaat yang lain.Tingkah laku yang salah jika diulang ,perlu mendapat penghargaan yang sama pula.
            Dengan demikian,dapt disimpulkan bahwa dalm menerapkan disiplin,hendaknya disesuaikan dengan perkembangan anak.Seorang anak akan cocok pada suatu disiplin,tetapi anak yang lain tidak sesuai.Pemberian disiplin tergantung pada dimana biasanya muncul permasalahan.Oleh karena itu disiplin sebaiknya mulai diberikan dalam hubungan dengan kegiatan rutin sehari-hari,seperti acara makan,tidur ataupun kebiasaan belajar.

PEMBERIAN HUKUMAN DAN PENGHARGAAN       
            Menanamkan aturan-aturan dan disiplin melalui hukuman dan penghargaan tampaknya tidak dapat di abaikan.Dengan hukuman ,anak belajar mengapa ia dihukum dan anak akan lebih memahami mengapa perbuatan yang dilakukan itu salah.Adanya hukuman membuat anak tidak akan mengulangi perilaku yang salah tersebut sehingga anak belajar tentang baik buruk perilakunya.
            Pemberian hukuman pun hendaknya segera,konsisten dan konstruktif dengan alasan yang jelas.Adapun pemberian hukuman dapat berfungsi untuk :
1)      Membatasi anak agar tingkah laku yang tidak di inginkan di ulangi
2)      Mendidik
3)   Motivasi,untuk menghindari terjadinya tingkah laku sosial yang tidak diinginkan.
            Bentuk hukuman dapat berbentuk hukuman fisik (misalnya pukulan),mengisolasi anak selama beberapa waktu(misal tidak menonton acara TV yang disukai).Meskipun demikian,pemberian hukuman fisik tampaknya sudah tidak terlalu efektif,itulah sebabnya akan lebih baik dan efektif jika pemberian hukuman disertai pula penjelasan mengapa tingkah laku dilarang(Strommen dkk,1983).Secara psikologis pemberian hukuman juga tidak akan merusak anak,sejauh berkaitan/seimbang dengan tingkah laku yang diberi hukuman.Pemberian hukuman yang terlalu sering juga tidak terlalu baik karena akan berakibat negative pada diri anak.Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang sering menghukum anaknya mengakibatkan anak belajar pola-pola tingkah laku yang tidak sehat,seperti suka menyerang yang tidak terkontrol,tidak bias berkomunikasi secara efektif,takut pada otoritas,menghindar dari interaksi sosial,tidak mampu mengekspresikan emosinya secara positif,merasa bersalah dan self ekteem(harga diri)rendah.Selain itu juga perkembangan sosial dan intelektualnya juga terhambat.Jika anak menjadi orang tua ,kelak akan menjadi orang tua yang sering menghukum anaknya. (Gordon & Gordon dalam strommen,1983).
            Dengan demikian ,orang tua maupun guru harus menghukum anak-anak didiknya maka mereka harus berhati-hati agar dampak negative tidak terjadi pada diri anak.Untuk anak usia sekolah lebih baik dan lebih efektif jika disertai dengan pemberian alasan mengapa orang tua/guru menghukum anak.Jika hukuman orang tua/guru ditinjau dari sudut pandang anak tanpa alasan yang spesifik mak anak tidak akan memahami hubumgan antara apa yang telah dilakukan dengan hukuman yang diperoleh atau anak juga tidak paham mengapa tingkah lakunya tidak diterima.Misalnya ,mengatakan pada anak bahwa ia dihukum karena kamu “jelek/buruk”,justru akan membuat anak memiliki konsep diri/gambaran diri yang buruk.
            Secara singkat dapat dikatakan hukuman dapat merusak diri anak tergantung dari pandangan orang tua /keluarga terhadap sudut  pandang anak mengenai hukuman yang diterimanya.Jika orang tua digambarkan anak sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan perhatian pada anak maka pemberian hukuman dirasakan sebagai suatu kenyataan yang tidak menyenangkan dalam kehidupan anak ,dan bukan sebagai sesuatu yang kejam dan penolakan.
            Pemberian penghargaan pun sama dengan hukumannya ,yaitu memotivasi anak untuk mengulang perilaku yang baik yang dapat diterima oleh lingkungannya.Dengan demikian ,anak akan lebih mudah menyesuaikan diri.Oleh karena itu fungsi penghargaan adalah :
1)        Nilai mendidik karena pemberian penghargaan menunjukkan bahwa tingkah   laku anak adalah yang sesauai dengan apa yang diharapkan lingkungannya.
2)        Motivasi,agar tingkah laku yang diterima di ulang kembali
3)        Penguat ,untuk tingkah laku yang diterima secara sosial
       Bentuk penghargaan berbentuk nonverbal’seperti senyuman,pelukan,sedangkan berbentuk verbal,seperti melalui ungkapan rasa puas atau menghargai usaha anak.Selain itu,tidak jarang pula yang memberikan penghargaan dalam bentuk pemberian hadiah.Pemberian penghargaan hendaknya bervariasi sehingga anak tidak selalu mengharapkan hadiah.
            Berrkaitan dengan pembahasan mengenai perkembangan moral pada anak SD maka berikut ini akan membahas mengenai arti agama bagi anak SD.
ARTI AGAMA BAGI ANAK USIA SEKOLAH
            Salah satu hal umum yang diminati anak adalah agama Tak dapat disangkal bahwa perasaan keagamaan termasuk perasaan yang luhur dalam jiwa seseorang. Perasaan keagamaan menggerakkan hati seseorang agar ia lebih banyak melakukan perbuatan yang baik. Oleh kaerna itu,perlu memperkenalkan agama sejak dini pada anak-anak.
            Anak mempunyai keyakinan beragama,yang diperoleh dari lingkungan rumah ataupun sekolahnya misalnya anak-anak diajarkan memikirkan tuhan sebagai seseorang yang akan marah jika anak-anak berbuat kesalahan dan akan menghukumnya untuk dosa yang dilakukan.Dilain pihak ,berbagai perayaan keagamaan dilingkungan rumah atau sekolah juga diperkenalkan pada anak,misalnya bersalam-salamn untuk saling memaafkan setiap hari puasa,memperkenalkan pada anak mengenai hari besar ,seperti idul fitri.natal.nyepi,waisak,juga memperkenalkan pada anak mengenai berbagai tempat  ibadah.Melalui pelajaran agama dan PPKn anak SD dapat lebih memahami arti agama.
            Dengan mengenal konsep keagamaan ,anak akan menghindari perbuatan buruk dan meningkatkan perbuatan baik.anak akan mempunyai keyakinan bahwa dengan berbuat baik ia akan masuk surga. demikian pula sebaliknya. Dalam hal ini anak berpikir tentang konsep tuhan ,surga,neraka,malaikat ataupun dosa.Pada anak SD umumnya akan mempertanyakan  mengenai nilai dari ketaatan beragama seperti berdoa atau sembahyang,yang kemudian akan meningkat pada pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan keyakinan beragama ,seperti surge atau neraka.
            Dari kegiatan pembelajaran ini kita mendapatkan gambaran mengenai perkembangan moral anak usia SD,mulai dari penanaman disiplin pada anak,bagaimana pemberian hukuman dan penghargaan pada anak.Berkaitan dengan moral memang tidak bias dilepaskan dari bagaimana arti agama bagi anak usia SD,Oleh karena pemahaman anak tentang agama tentu berbeda dengan pemahaman orang dewasa tentang agama.






















BAB III

KESIMPULAN
            Pada pembahsan ini telah dijelaskan tentang perkembangan moral dan sosial pada anak usia Sekolah Dasar.Pertama sekali anak belajar mengikuti aturan-aturan yang ada tanpa tahu alasan mengapa harus mengikuti aturan-0aturan tersebut.Dalam mempelajari moral,ada 4 elemen penting,yaitu peran hukum ,tata karma dan aturan ,peran kata hati,peran perasaan malu serta peran interaksi sosial.Keempat elemen ini penting dalam perkembangan moral; seorang anak. Perkembangan moral tidak bias dilepaskan dari lingkungan.Ketika kecil lingkungan keluargalah yang berperan,namun begitu memasuki usia sekolah konsep moral mulai berkembang,anak mengikuti aturan-aturan yang ada disertai adanya alasan-alasan tertentu.Misalnya,agar disukai teman sebaya atau orang disekelililngnya anak mengikuti aturan-aturan yang diharapkan lingkungannya.
            Dalam perkembangan moral,disiplin mempunyai peran penting.Melalui disiplin anak beljar berperilaku sesuai dengan kelompok sosialnya.anak pun belajar perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima dalm masyarakat.Dalm menanamkan disiplin ,hukuman dan penghargaan mempunyai andil.Hukuman akan diberikan jika terjadi pelanggaran disiplin,anak pun belajr memahami mengapa perilakunya salah dan anak tidak akan mengulangi perilaku tersebut.Demikian pula dengan penghargaan ,adanya penghargaan anak akan belajar mengulangi perilaku yang diterima lingkungannya.pemberian hukuman dan penghargaan atau penanaman disiplin haruslah secara konsisten.
            Pengenalan perilaku baik dan buruk tidak terlepas dari bagaiman mengenalkan agama sejak dini.Melalui contoh sehari-hari,anak belajar konsep Tuhan,surge,neraka,setan maupun malaikat.



Daftar Pustaka
Lestari Hera. Dkk. 2002. Pendidikan Anak SD. Penerbit Universitas Terbuka
Hurlock, Elizabeth B. 1993. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga
Syah, Muhibbin. 2010.Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar